Menolak Takdir
Hal terburuk sekaligus hal yang paling aku senangi adalah masa dimana aku jatuh sakit. Aku pernah bedrest 5 bulan kurang lebih lamanya. Aku pernah nangis di setiap malam, menikmati sakit setiap nafas berhembus, harapanku musnah, saat itu di kepalaku hanya ada kalimat "Alangkah baikya jika aku tidak ada di dunia ini". Jika di ingat lagi, rasanya itu kalimat bodoh yang aku inginkan.
Aku pernah bingung gimana caranya berjalan, aku pernah menangis saat latihan berjalan kembali. Ketika masa remaja masa dimana mereka tampak mekar dengan diriya. sementara aku waktu itu berselimut takdir yang aku tak suka. aku sampai mikir bagaimana jika aku tidak bisa berjalan lagi?
Hingga di suatu siang, keluargaku pergi ke suatu tempat. Sebenarnya salah satu dari mereka ingin tinggal menemaniku di rumah, saat itu aku sudah bisa tegak meskipun dengan alat bantu tongkat. Dengan wajah meyakinkan aku membiarkan mereka pergi semua, toh mereka cuma pergi sebentar. Disanalah puncaknya, saat aku sendirian dirumah. Aku mengadu pada pencipta atas ketidak adilan yang aku rasa.
tapi lihatlah, semua beban itu pasti akan terlewati. mengeluhpun kita dia tetap akan ada.bersyukurpun kita dia juga tetap akan ada. situasinya tetap akan sama hanya respon yang berbeda tapi menunjukkn kualitas keimanan kita. aku yang bodoh merasa pencipta tidak adil.
Hingga waktu zuhur tiba keluargaku belum juga pulang. waktu itu, berdiri untuk sholat saja aku tidak mampu. aku sholat duduk. Disana aku merasa sedih karena sudah lama aku tidak sujud. Sujud, aku sangat ingin bisa sujud mengadu kepada pencipta tentang segala hal yang aku rasa. posisi dimana seorang hamba terasa lebih dekat dengan penciptanya. Aku sangat ingat, saat kesedihan itu tiba. waktu itu aku berdoa.
"ya Allah, aku rindu sujud. gpp sakit, tapi aku mohon aku pengen bisa sujud" Karena aku ingin curhat dengan leluasa pada posisi itu, aku ingin lihat apa benar doa orang yang sakit itu makbul dan sujud itu posisi paling dekat antara hamba dan penciptanya. Aku ingin membuktikan itu dan mengadukan semuanya barangkali aku bisa sembuh lebih cepat.
Ajaib. benar benar ajaib. Saat sholat ashar aku mencoba solat berdiri walau masih sakit tapi masih bisa aku tahan. Alhamdulillah doaku terkabul. aku bisa sujud walau sujudku tidak begitu sempurna. Saat itu aku sangat senang, "wah doaku di dengar"
Masa itulah, masa dimana aku sadar pencipta itu dekat bahkan sangat dekat seperti dikatakan dalam firmanNya.
Dan masa itu aku sudah berdamai dengan takdir, tak mengapa saat ini aku hanya terbaring lemah di kasur. di luar sana masih ada banyak orang yang punya ujian yang jauh lebih besar, tapi merka mampu bersabar dan tetap bahagia. saat itu, sakit tidak lagi menyebalkan bagiku.
Satu hal yang terus menjadi pengingatku saat lemah "pencipta kita tidak akan pernah meninggalkan kita, karena hanya Dia yang mencintai kita seutuhnya."
Dan lihatlah ketika telah sembuh seperti sediakala diri yang bodoh itu sering lupa dengan masa pembelajaran sakitnya. ketika sehat ia sangat jarang menemukan pencipta dalam kesehariannya. hiyap itulah jiwa yang sombong. dan pencipta? masih saja berbuat baik kepada hambanya.
astaghfirullah, mungkin itulah salah satu sebab, mengapa kita dianjurkan banyak istighfar. betapa banyak diri lupa atas kebaikan pencipta ")
-tentunya tulisan ini sebagai alarm buat diriku sendiri
Komentar
Posting Komentar