Jika Menghilang Lebih Baik
Hai, untuk kamu yang baca tulisan ini apa kabar? Ini tulisan pertamaku di Jejak angin, masih dengan penulis yang sama dengan Catatannurr di sebelah. Yap Haloo, panggil aja aku Dara. Kamu mengenalku?
Hidup itu unik ya, kadang kita ngerasa begitu bahagia di suatu momen, rasa-rasanya ni hidup indah banget, semua orang kelihatan begitu baik segala urusan terasa lancar sampai-sampai lupa diri bahwa kebahagiaan itu gak kenal yang namanya abadi kecuali di akhirat nanti.
ketika di fase terburuk dalam hidup, ni bumi rasanya kok sesak ya, bagi yang gampang nangis mungkin udah gak terhitung lagi berapa banyak butir air mata yang mengenai pipi dan bagi yang sulit untuk nangis atau enggan melakukan itu mungkin cukuplah jadi saksi air matanya mengalir menyelimuti hati yang terasa perih. Sampai- sampai banyak juga yang lupa diri bahwa kesedihan juga tidak kenal yang namanya abadi kecuali di akhirat nanti.
Begitulah hidup, kita di tuntut untuk bijak dalam menjalani setiap rasa yang hadir jika ingin baik-baik saja di kala senang ataupun sedih maka bijaklah mengelola emosi diri.
Tapi sesuai judul yang aku buat di tulisan pertama ini, entah mengapa rasanya saat ini aku pengen menghilang. pernah gak si kalian merasa jika kita menghilang mungkin semuanya akan baik-baik saja, dan tidak masalah juga ketika nanti orang-orang lupa akan kehadiran kita. Mungkin saat ini aku sedang berada di fase terburuk. pengen menghilang tapi bukan meninggal, haha. pengen menghilang aja gitu tiba-tiba.
Sebenarnya kita semua yang pernah berada di fase terburuk itu sadar bahwa badai ini akan berlalu, hanya saja kita butuh waktu untuk menaklukkan badai itu. Tapi bagaimana jika diri sendiri tidak mampu untuk mengendalikan badai yang hadir? Lihatlah diri sendiri dia begitu lemah. Hanya saja tidak banyak yang tahu akan hal itu. Apakah kamu juga begitu? Mereka selalu melihat bahwa kamu adalah orang yang kuat, berilmu pasti mudah bagimu untuk melawan badai yang hadir dalam hidup. Namun siapa yang tahu kerasnya jeritanmu dalam mengahadapi badai itu, sampai-sampai rasanya kamu ingin menghilang saja, tak mengapa jika kamu di lupakan.
Tapi di setiap heningnya malam kamu terus memasuki ruang sepi dalam diri, bagaimana jika menghilang bukanlah sebuah solusi?
Apakah kamu selemah itu manaklukan badai kali ini? Bukankah badai-badai sebelumnya juga sudah pernah terlewati sekalipun dirimu bahkan hampir mati?
Hey coba pikirkan lagi, menghilang itu sepertinya bukan pilihan yang tepat. Bertahanlah, jangan terburu-buru mengusir badai yang mengunjungimu. Mungkin di ruang sepi dalam diri yang begitu tenang kita akan menemukan secercah harapan dari yang maha abadi. Tugas kita, menemukukan itu."
"Untuk kali ini, bisakah kita bersabar lagi wahai diri, sampai nanti bahwa menghilang bukan lagi sebuah rencana, tapi sebuah kenyataan yang tidak bisa di elakkan."
Komentar
Posting Komentar